Banyuasin, Sumaja Post- Anemia Remaja: Masalah Kesehatan yang Tidak Boleh Dianggap Sepele. Masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia. Pada fase ini terjadi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, perubahan hormonal, serta peningkatan kebutuhan zat gizi. Namun, salah satu masalah kesehatan yang masih mengintai remaja adalah anemia.Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal sehingga kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh menurun. Kondisi ini dapat membuat seseorang mudah lelah, lemah, pusing, sulit berkonsentrasi, dan menurunkan produktivitas belajar maupun aktivitas sehari-hari. Data terbaru yang tersedia dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 15,5%. Artinya, sekitar satu dari setiap tujuh orang pada kelompok usia tersebut mengalami anemia. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan angka 32% pada kelompok usia 15–24 tahun berdasarkan Riskesdas 2018, tetapi anemia tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Desa Persiapan Sembawa Mulya, Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin, sebagai salah satu mitra binaan Poltekkes Kemenkes Palembang sejak tahun 2022 sudah memiliki Posyandu Remaja percontohan dan 10 orang kader yang aktif, namun masih menghadapi masalah signifikan terkait kejadian anemia pada remaja puteri. Hal ini dikaitkan dengan bahwa 9 dari 26 remaja puteri mendapatkan tablet Fe secara rutin, namun belum pernah dilakukan pemeriksaan Hb secara rutin. Kader posyandu remaja di Desa Persiapan Sembawa Mulya juga belum memahami secara menyeluruh mengenai anemia pada remaja, hal ini dibuktikan dengan studi pendahuluan dengan menyebar kuesioner yang berisi 10 pertanyaan mengenai anemia remaja, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 25%, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh kader posyandu remaja masih sangat minim. Jumlah kunjungan ke posyandu remaja sepanjang tahun 2023 juga mengalami penurunan yg signifikan, dimana semula setiap bulan sebanyak 30 remaja mendatangi posyandu menurun menjadi 20 orang (67%).
Tantangan Bukan Hanya Kurang Zat Besi, Anemia pada remaja tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya konsumsi makanan sumber zat besi. Pola makan yang tidak seimbang, kebiasaan mengonsumsi makanan rendah zat gizi, menstruasi pada remaja putri, kurangnya pengetahuan tentang gizi, serta rendahnya kepatuhan mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) juga dapat menjadi faktor yang berperan.Kementerian Kesehatan melalui publikasi berbasis SKI 2023 pada Maret 2026 menyebutkan bahwa 54,8% remaja putri belum pernah mendapatkan TTD. Selain itu, 51,4% remaja putri yang tidak mengonsumsi TTD menyatakan tidak mengetahui manfaatnya. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan anemia bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan tablet, tetapi juga pengetahuan dan perubahan perilaku. Kondisi ini menjadi alasan penting untuk memperkuat edukasi kesehatan yang dekat dengan kehidupan remaja. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah melalui Posyandu Remaja (POSYANRA) dan kelompok sebaya. Mengapa Kelompok Sebaya Penting?
Remaja cenderung lebih mudah menerima informasi yang disampaikan oleh teman sebaya karena komunikasi berlangsung dalam suasana yang lebih santai, terbuka, dan tidak menggurui.Kelompok sebaya di POSYANRA dapat menjadi ruang bagi remaja untuk saling berbagi pengalaman mengenai pola makan, menstruasi, konsumsi TTD, aktivitas fisik, hingga kebiasaan hidup sehat.Teman sebaya bukan menggantikan peran tenaga kesehatan, tetapi menjadi jembatan informasi dan motivasiantara remaja dengan keluarga, sekolah, POSYANRA, serta fasilitas pelayanan kesehatan.Dengan pendekatan tersebut, pencegahan anemia tidak lagi hanya berupa penyuluhan satu arah. Remaja dapat dilibatkan sebagai pelaku perubahandi lingkungannya sendiri. Optimalisasi POSYANRA untuk Mencegah Anemia, Optimalisasi peran kelompok sebaya POSYANRA dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan sederhana tetapi berkelanjutan. Pertama, edukasi sebaya tentang anemia. Kader dan kelompok sebaya dapat diberikan pelatihan mengenai pengertian anemia, tanda dan gejala, faktor risiko, makanan sumber zat besi, manfaat vitamin C dalam membantu penyerapan zat besi, serta pentingnya konsumsi TTD sesuai anjuran tenaga kesehatan. Kedua, pemantauan status kesehatan remaja.
POSYANRA dapat menjadi tempat untuk melakukan pemeriksaan sederhana dan skrining sesuai kapasitas layanan, termasuk pengukuran berat badan, tinggi badan, dan pemeriksaan hemoglobin bila tersedia dan dilakukan oleh petugas yang kompeten. Ketiga, membangun kebiasaan konsumsi TTD. Kelompok sebaya dapat berperan sebagai pengingat dan pemberi dukungan agar remaja putri tidak lupa mengonsumsi TTD sesuai program dan anjuran tenaga kesehatan. Pendekatan ini dapat diperkuat melalui pengingat kelompok, kalender kesehatan, maupun media digital. Keempat, membangun budaya makan bergizi. Pencegahan anemia harus disertai pola makan bergizi seimbang. Remaja perlu dikenalkan pada makanan sumber zat besi seperti daging, hati, telur, ikan, dan berbagai pangan loka yang tersedia di lingkungan mereka. Konsumsi sayuran serta buah sumber vitamin C juga penting untuk mendukung penyerapan zat besi. Kelima, menggunakan media yang disukai remaja. Pesan kesehatan tidak harus selalu disampaikan dalam bentuk ceramah. Kelompok sebaya dapat menggunakan poster, video pendek, media sosial, kuis, permainan edukatif, diskusi kelompok, hingga kampanye kreatif tentang “Remaja Bebas Anemia”. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya pendekatan yang sesuai dengan karakteristik generasi muda, termasuk pemanfaatan media sosial, kampanye digital, dan pendekatan edukator sebaya.
Dari Remaja untuk Remaja Konsep utama yang perlu dibangun adalah dari remaja, oleh remaja, untuk remaja. Seorang kader sebaya dapat mengingatkan temannya untuk tidak melewatkan sarapan, memilih makanan bergizi, mengonsumsi TTD sesuai anjuran, serta berkonsultasi kepada petugas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti mudah lelah, pusing, lemah, atau gejala lain yang mengarah pada anemia. Pendekatan ini juga dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap POSYANRA. Remaja tidak lagi melihat posyandu sebagai tempat pemeriksaan kesehatan semata, tetapi sebagai ruang untuk belajar, berdiskusi, mendapatkan dukungan, dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan. POSYANRA sebagai Investasi Generasi Masa Depan, Pencegahan anemia pada remaja memiliki dampak jangka panjang. Remaja yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk belajar secara optimal, beraktivitas secara produktif, dan mempersiapkan diri menjadi generasi dewasa yang sehat.Hal ini sangat penting terutama bagi remaja putri.
Kebiasaan menjaga kesehatan dan kecukupan zat besi sejak remaja merupakan bagian dari investasi kesehatan reproduksi di masa mendatang.WHO juga menempatkan anemia sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang penting karena dampaknya dapat berkaitan dengan perkembangan kognitif dan motorik, produktivitas, serta konsekuensi kesehatan lintas generasi. Saatnya Memperkuat Gerakan Bersama, Data terbaru menunjukkan bahwa anemia masih menjadi tantangan kesehatan remaja Indonesia. Karena itu, penanganannya tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan, Sekolah, keluarga, pemerintah desa/kelurahan, puskesmas, organisasi kepemudaan, kader, dan terutama remaja sendiri perlu bergerak bersama. POSYANRA dapat menjadi salah satu pusat gerakan tersebut, Dengan memperkuat kelompok sebaya, memberikan edukasi yang tepat, meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan, mendorong konsumsi TTD sesuai anjuran, serta membangun kebiasaan makan bergizi, pencegahan anemia dapat dilakukan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja.
Pada akhirnya, mencegah anemia bukan hanya tentang meningkatkan kadar hemoglobin. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan bagian dari membangun remaja yang sehat, aktif, produktif, percaya diri, dan siap menjadi generasi penerus bangsa. Posyandu Remaja Seroja Desa Persiapan Sembawa Mulya kemudian agak menggalakkan keterampilan konseling anemia melalui simulasi dan role play, kader memperoleh keterampilan dalam memberikan konseling anemia kepada remaja. Materi konseling mencakup pengertian dan tanda anemia, faktor risiko, pola makan bergizi seimbang, sumber zat besi, pencegahan anemia, serta pentingnya perilaku hidup sehat. Kader juga dilatih menggunakan komunikasi yang sederhana dan mudah dipahami oleh remaja. Maka, Remaja sehat hari ini adalah investasi Indonesia yang lebih kuat di masa depan. Kegiatan ini juga didukung oleh pemerintahan desa setempat, Camat Sembawa dan Puskesmas Sembawa. (*rill).
![]()





No Responses